Selasa, 01 April 2014

Sikap Rendah Hati dan Sederhana

Sekalipun engkau hidup berlimpahan dan berkecukupan dana, tetaplah hidup dengan sederhana. Tidaklah sulit menciptakan sifat yang baik yaitu sikap rendah hati dan sederhana. Orang yang memiliki sikap rendah hati selalu berusaha menjadi pribadi yang bisa menerima orang lain, tidak sombong, atau terlalu memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki.

Tidak usahlah kita risaukan, jika orang lain tidak tahu apa yang kita miliki atau seberapa tinggi kemampuan kita melakukan segala sesuatu. Orang lain bisa menilai 'kualitas seseorang' hanya dengan melihat sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari yang kita lakukan.

Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menjaga diri kita sendiri. Dengan bersikap rendah hati, berarti kita telah menempatkan diri di posisi yang nyaman, tenang, damai dan tentram. Jika hati sudah merasa nyaman, damai dan tentram, maka secara otomatis Anda akan tampak bersahaja dan bahagia.  Bukankah itu yang kita inginkan? Marilah kita bersikap rendah hati, dan membiasakan diri, untuk selalu hidup sederhana.


Sabtu, 29 Maret 2014

Kalau Aku Punya Gelar, Kenapa Kalian Tidak?

Siapakah yang lebih hebat, seorang ibu atau seorang ayah? Jawabannya tak ada yang lebih hebat. Keduanya memiliki peran yang berbeda, tapi sama-sama hebat. Kalau berbicara tentang orang tua, mungkin tidak akan ada habisnya. Orang tua adalah orang yang ada dibalik kesuksesan kita. Orang tua adalah pihak paling bertanggung jawab untuk mendidik sang anak. Orang tua akan selalu menjadi pihak yang kita hormati, kita sayangi dan kita teladani.

Pada masa kini anak muda sangat bersemangat mencari cinta sejati mereka, padahal sejak dahulu mereka telah mendapatkan cinta sejati dari orang tua mereka. Saat anak membutuhkan cinta, orang tua memberikannya. Saat mereka membutuhkan, orang tua tetap memberikan bahkan dengan jumlah yang lebih banyak. Manusia begitu pintar menciptakan teknologi yang canggih, tapi belum mampu menciptakan sesuatu yang bisa membalas semua jasa-jasa orang tua mereka. Beberapa anak mungkin akan menelantarkan orang tuanya yang telah renta dan kebanyakan orang tua masih tetap mencintai anak yang telah menelantarkannya. Ah aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu…

Mah, Pah, mulai awal semester ini aku udah nyusun skripsi. Do’ain ya semoga skripsinya lancar. Kalau cepet wisuda kan bisa dapet gelar dan cepet cari kerja. Oh iya kalau bicara tentang gelar, di depan nama kalian belum ada gelarnya ya? Iya do’ain aku ya biar cepet lulus, biar cepet dapet kerja dan bisa bantu ngasih gelar ke kalian. Iya gelar haji, nanti di depan nama kalian ada hajinya. Do’ain aku sukses biar bisa ngeberangkatin kalian ke tanah suci dan dapetin gelar itu. Terima kasih Mah, Pah, maaf kalau selama ini aku masih nakal dan sering ngerepotin kalian…

Jatinangor. Sabtu, 29 Maret 2014

Senin, 03 Maret 2014

Melangkah dari Masa Lalu

Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas. Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpurukan Anda saat ini.  Anda terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan.

Bila Anda tak bisa lepas dari trauma,  maka coba tanyakanlah hal ini pada diri  Anda :

"Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan diderita oleh diri saya sendiri? Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidup saya? Siapa yang berkuasa disini, diri saya ataukah trauma?"

Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon. Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri. Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama. Satu-satunya yang kita gunakan untuk melangkah dari masa lalu adalah pikiran kita sendiri.

Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup Anda sendiri. Ingatlah hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang sibuk mengingat masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri. Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita. Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita? Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur.

Sabtu, 01 Maret 2014

Bukankah Seharusnya Aku dan Kamu Menjadi Kita?

Bulan ini, ya bulan ini. Seharusnya hubungan kita sudah memasuki usia setengah tahun. Ketika itu, 6 bulan yang lalu aku memutuskan menjadikanmu seseorang yang benar-benar berarti dalam hidupku. Sebenarnya sudah sejak lama aku mengagumimu, ya kamu cantik. Tetapi kecantikanmu itulah yang membuatku merasa tidak pantas untuk memilikimu, sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku.

            Aku senang. Beberapa bulan kita menjalin hubungan jarak jauh. Kita bercanda, tertawa, bertengkar, senang dan sedih semua telah kita rasakan. Ketika aku merasa terbebani dengan tugas seminar skripsiku, disitulah kamu hadir memberikanku semangat. Kamu memaksaku untuk berlari, berjalan, hingga akhirnya aku lelah dan merangkak, terus bergerak jangan sampai terhenti.

Tetapi sayang semuanya telah berakhir, berakhir karena kebodohanku. Ya, ini kebodohanku. Semakin hari aku semakin tidak sanggup menerima suatu hal yang bernama jarak. Bertengkar menjadi makanan pokok bagi kita pada saat itu. Kalau dibilang bertengkar itu merupakan bumbu pacaran, mungkin bumbu kita terlalu banyak sehingga makanan apapun yang terlalu banyak bumbu menjadi tidak enak.

“Kalaupun kita tak dapat saling melihat, pastikan itu karena kamu memelukku dari belakang, bukan karena jarak”. Mungkin ini yang seharusnya aku yakini pada saat itu, tetapi.. ah sudahlah, semuanya telah berakhir.

Semuanya menjadi sangat jelas saat kamu benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku sadar bahwa sebagian dari diriku sudah membuatmu kecewa yang menyebabkan kamu pergi. Walaupun aku sempat meminta maaf dan berjanji untuk mencoba berubah dan menjadi lebih baik lagi, rupanya kamu tak sedikit pun memberiku kesempatan.

Ya, sudah beberapa bulan kita tidak bersama bahkan untuk sekedar berkomunikasi pun tidak kita lakukan. Aku mencoba bangkit walau tak lagi bersamamu. Bangkit dari keterpurukanku yang membuat aku lupa akan semangat yang telah kau berikan kepadaku. Aku mencoba menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sesulit apapun itu, aku yakin bisa melakukannya walau tanpa dirimu. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku dan mengajarkanku begitu banyak hal yang belum tentu aku dapatkan dari orang lain.

Jatinangor. Sabtu, 1 Maret 2014

Rabu, 20 November 2013

Kebaikan Datang dengan Sendirinya

            Tadi pagi, ketika bangun mata masih sayup-sayup akibat begadang semalam. Ketika ada sesuatu hal yang tidak semestinya, ketika ucapan selamat pagi berubah menjadi sebuah “semprotan”, aku dikejutkan dengan sebuah sms masuk. Sms itu ternyata dari seorang teman, sahabat, guru, pokoknya segalanya bagiku. Dia adalah seorang perantau dari Tuban, Jawa Timur yang kurang lebih 12 tahun aku mengenalnya. Aku mengenalnya di Jakarta dan aku sendiri memang asli Jakarta. Sebagai orang Jakarta, aku selalu berusaha menyambut baik perantau-perantau yang datang ke kotaku. Aku mengenal dia mulai dari dia belum nikah hingga sekarang sudah mempunyai anak satu, dia masih seperti dulu seperti yang aku kenal. Baik, ramah, sopan dan rendah hati. Kami sudah jarang sekali bertemu karena aku sekarang juga sedang menuntut ilmu ke luar Jakarta, sementara dia juga sudah berkeluarga di Jakarta sehingga waktu kami untuk bertemu sangat sulit. Sesekali kami bertemu kalau ada waktu ketika aku pulang ke Jakarta dan dia tidak sedang sibuk kerja.

            Di sms itu, dia menanyakan aku dimana dan bagaimana kabarku. Oh ternyata setelah panjang lebar kami berbicara di sms, tujuan dia sms ku adalah untuk memberi kabar padaku bahwa dia sekeluarga sudah pindah ke Surabaya sekarang. Aku tidak menanyakan kenapa dia pindah ke Surabaya. Sudah sekitar 12 tahun dia tinggal di Jakarta, mungkin kepindahannya ke Surabaya karena ingin lebih dekat dengan kampung halamannya. Dalam sms itu, terdapat kalimat yang sangat mengharukan bagiku, “Kalau kamu mau ke Surabaya, hubungi aku biar aku siapkan kebutuhannya”. Mungkin ini balasan dari Tuhan, karena setiap perbuatan pasti ada balasannya. Jika kita berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan akan datang dengan sendirinya tanpa diminta :')

Jatinangor. Rabu, 20 November 2013